Latest Entries »

Pembuka ! !

Dalam beberapa tahun ini memang banyak banget sih .. yang namanya bencana Alam.. ya ,, meskipun udah banyak yang mulai sadar sih tentang Arti penting alam .. tapi juga ga sedikit yang masih mentingin yang namanya urusan duit dari pada kelestarian alam . padahal alam ini tidak akan selamanya bisa bertahan jika kita terus – terusan rusakin kaya motong pohon, nyemarin aer di laut dan sungai, dan macem – macem lainnya . yang ada akhirnya tar .. dunia kita ini rusak dan ujung2 nya banyak tumbuhan yang punah. lanjut nya lagi ga da tumbuhan, hewannya punah, lanjut lagi tumbuhan ma hewan punah,, kita juga yang punah .. napa ? pengen makan yang berbau vegetarian kaga ade tumbuhan.. pengend makanan yang kanibal .. ee .. sori ya daging2an gt maksudnya, kaga ade hewan .. ujung2nya kita juga ikut2an punah .. makanya itu kita harus menjaga agar alam ini tetep seger aman tentram . agar bumi dan semua komunitas + populasinya tahan Milyaran taon kedepan … AMIN !! .. Sebenernya ga ini juga sih yang mau tak bincangin di sini . lanjut _ sebenarnya banyak yang alam lakukan buat bisa nyadarin nie … manusia biadap tidak berkePERIMANUSIAAN ( ya tu bagi yang merasa) . aku juga tidak nyalahin smwanya sihh.. cumand buat yang masih melakukan keBIADAPAN terhadap alam ya .. tolong .. sadar . kamu yang ngerusakin kmu yang bakal nanggung akibatnya juga .. sebenarnya alam juga sudah memberikan beberapa peringatan yang udah jelas2 kita rasain akibatnya .. pa ja itu .. Yuk baca Postingand di “halaman”  yang ada di atas klo ga’ yang d bawah , kalo ga di samping, kalo ga postingand nie .. yang ada di bawah. .  ..  tinggal pilih .😀 (macem2 bencana alam di bumi) dari Group AMD ini🙂 … ====

Korban banjir bandang di Situbondo, Jawa Timur, menolak rencana pemerintah yang akan merelokasi mereka dari bantaran sungai. Selain daerah relokasi yang jauh dari kota, relokasi juga dinilai sebagai upaya oknum pemerintah untuk ikut “menikmati” dana bantuan yang menjadi hak korban banjir. Tidak adanya titik temu itulah yang membuat korban banjir bandang Situbondo masih terkatung-katung hingga kini.

—————————-

Tenda biru berukuran 4×4 itu menjadi satu-satunya harapan bagi Suryotomo (59), untuk terhindar dari terik sinar matahari Selasa (04/03/08) ini. Dari bawah tenda, pensiunan pekerja Bank Nasional Indonesia (BNI) ini duduk di atas kloset rusak. Bapak enam anak itu untuk mengawasi lima pekerjanya, mengambili barang-barang di bekas rumah miliknya di Jl. Merpati Situbondo, Jawa Timur.

Sesekali, Suryotomo yang bertongkat penyangga itu harus berjalan tertatih di atas puing-puing rumahnya. Memastikan seluruh barang miliknya sudah diambil. “Kabarnya pemerintah akan melebarkan Sungai Sampeyan hingga 20 meter, jelas itu memakan tanah milik saya, daripada dibuang, lebih baik saya menambil semua barang-barang milik saya yang sebagian besar sudah rusak kena air banjir,” katanya pada The Jakarta Post.

Suryotomo adalah salah satu korban banjir bandang yang melanda Kabupaten Situbondo, 8 Februari 2008 lalu. Pada saat itu, sembilan kecamatan di kabupaten ini tergenang oleh banjir. Air yang meluap dari Sungai Sampayen di sebelah selatan pusat kota, mengaliri anak-anak sungai yang juga ikut meluap. Sejumlah 15 orang tewas dalam peristiwa itu.

Kecamatan Kota Situbondo menjadi daerah terparah. Di lokasi yang juga merupakan pusat kota Situbondo ini, 112 rumah hanyut dan hancur terseret air. Sejumlah 703 rumah rusak berat dan tidak bisa ditempati, serta 3284 lainnya rusak ringan. Kondisi parah juga dialami oleh Kecamatan Panji. Sejumlah 62 rumah hanyut, 211 rusak berat dan 609 rusak ringan dan masih bisa ditempati. Ribuan orang mengungsi di jalanan, rumah sanak keluarga atau tempat umum yang lebih aman.

Peristiwa yang hampir sebulan lalu terjadi itu, hingga kini masih menyisakan luka. Bukan luka fisik, namun luka hati karena permintaan korban banjir bandang untuk mendapatkan ganti rugi dari pemerintah tidak dikabulkan. “Pemerintah maunya merelokasi kami di Desa Sliwung Kecamatan Panji, jauh dari sini, jelas kami tidak mau,” kata Tolak, warga Kecamatan Kota pada The Post. Desa Sliwung terletak 10 Km dari pusat kota Situbondo. Lokasinya adalah berbatasan dengan Kabupaten Bondowoso.

Tolak adalah salah satu korban banjir bandang. Rumahnya yang terletak 10 meter dari bibir sungai, hanyut dibawa banjir. Menurut laki-laki yang bekerja sebagai sopir truk ini, keputusan relokasi ke Desa Sliwung seperti membunuh korban banjir bandang pelan-pelan. Karena penduduk yang akan direlokasi itu hampir seluruhnya bekerja di kota. Seperti menjadi tukang becak, pedagang kaki. “Lalu, bagaimana kita bekerja kalau kita tinggal di desa Sliwung,” kata Tolak.

Nuryati, korban banjir yang lain mengatakan, karena alasan jauh dan tidak ada pekerjaan itulah, sebagian besar korban banjir meminta pemerintah membatalkan relokasi dan mengganti kerugian dengan sejumlah uang. “Jumlahnya terserah saja, tapi yang pasti layak dan bisa digunakan untuk membangun rumah lagi,” kata Nuryati.

Ibu satu anak yang kini tinggal di tenda Jl. Merak ini mengatakan, bila korban banjir mendapatkan uang, maka korban banjir itu sendiri yang akan mengelola uang itu. Apakah mau dipakai membangun rumah lagi atau membuka usaha baru di kota, sepenuhnya menjadi hak korban. “Kalau saya akan membangun rumah di daerah Pantai Patek, karena di sana anak saya sudah beli tanah di sana,” katanya.

Suryotomo, korban banjir dari Jl. Merpati Situbondo mencurigai, kengototan pemerintah merelokasi akan memposisikan korban banjir bandang sebagai obyek. Mulai obyek penyunatan dana, sampai obyek kontraktor dalam mengambil keuntungan. “Misalnya kita dapat relokasi rumah seharga Rp.20 juta, maka nilai riil rumah itu akan jauh lebih rendah, karena sudah disunat di sana-sini,” kata Suryotomo yang juga pensiunan pegawai BNI ini.

Menanggapi pro-kontra relokasi atau yang cash, Yamin Muazin, Kepala Perlindungan Masyarakat (Linmas)Kabupaten Situbondo, yang juga anggota Satuan Pelaksana Penanganan Bencana (Saklak PB) Situbondo meminta masyarakat untuk berpikir lagi bila akan menolak. Karena semua yang dilakukan pemerintah sepenuhnya untuk kepentingan dan keselamatan masyarakat. “Bertempat tinggal di bantaran kali itu berbahaya, apa tidak lebih baik menerima relokasi,” kata Yamin pada The Jakarta Post.

Yamin mengungkapkan, saat ini pihak Satlak PB sedang melakukan kunjungan ke Jember untuk melihat rumah relokasi yang dibangun di Jember. Rumah relokasi Jember itu diperuntukkan bagi korban banjir bandang di Kecamatan Panti, Jember tahun 2006 lalu. “Siapa tahu, setelah melihat rumah yang sudah jadi, maka masyarakat akan mengubah pendapatnya,” kata Yamin.

Sementara itu, Selasa (04/03/08) ini, tujuh pengacara dari Tim Kemanusiaan Advokat Ikadin mengajukan gugatan class action pada Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Situbondo, Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Pengairan Kabupaten Situbondo. Tergugat dianggap lalai dalam mengelola air, hingga menyebabkan terjadinya banjir bandang. Kelalaian itu membuah jatuhnya korban jiwa dan harta benda.

PANDEGLANG–MI: Hak korban bencana banjir yang terjadi pada Kamis (26/11) lalu di Kabupaten Pandeglang masih terabaikan.

Hingga kini, mereka masih kekurangan makanan, air bersih, pakaian, dan sanitasi. Puluhan di antaranya terpaksa kehilangan rumah mereka. Berdasarkan pedoman penanggulangan bencana dalam UU Nomor 24 Tahun 2007 dan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008, setiap korban bencana berhak mendapatkan bantuan pemenuhan kebutuhan dasarnya.

Pasal 26 pada UU 24/2007 menyebutkan, setiap orang yang terkena bencana berhak mendapatkan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar. Kemudian, Pasal 52 PP 21/2008 menegaskan bahwa kebutuhan dasar yang dimaksud UU 24/2007 ialah kebutuhan air bersih dan sanitasi, pangan, sandang, pelayanan kesehatan dan psikososial, pengungsian maupun tempat tinggal.

Sekretaris Satlak Penanggulangan Bencana Kabupaten Pandeglang Futoni menerangkan, para korban bencana di wilayahnya masih kekurangan makanan, air bersih, sanitasi, dan pakaian. Hingga kini, korban banjir di kabupaten ini mencapai 23.714 keluarga. Sedangkan sawah yang tergenang banjir sekitar 11.475 hektare. Umumnya, baru ditanami padi selama 14 hari. Sebanyak 8.949 rumah rusak dan 34 rumah di antaranya hanyut terbawa arus banjir.

Futoni menjelaskan, jumlah mereka yang tewas akibat banjir bertambah dua orang, sehingga totalnya menjadi empat orang. Mereka adalah Karnah, 80, warga Kampung Pamagersari, Desa Cibungur, Kamid alias Hamid, 20, warga Kampung Cikuya, Desa Cikuya, Rasim, 60, warga Kampung Rancailat, Desa Cibungur. Ketiga nama di atas merupakan warga Kecamatan Sukaresmi. Korban keempat bernama Ahmad, 20, warga Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran. “Tolong kami, Pak,” tutur Aan, ayah Kamid, salah satu korban yang tewas akibat banjir di Kecamatan Sukaresmi.

Di wilayah ini, misalnya, para keluarga korban yang tewas akibat banjir di wilayahnya belum mendapatkan santunan dari pemerintah daerah. Sementara itu, sampai saat ini, warganya masih kekurangan makanan dan air bersih. “Sejak kembali dari pengungsian, banyak di antara kami yang masih kesulitan makan dan menggunakan air sumur yang berwarna kuning kecoklatan untuk mencuci maupun masak,” ujar Camat Sukaresmi Suaedi Kurdiatna, Selasa (1/12). (RM/OL-04)


Banjir bandang yang keganasan puncaknya terjadi sejak hari Selasa
malam hingga Rabu (17/5) siang telah meremukkan banyak perkampungan
dan tanaman penduduk di kawasan Besikama, sekitar 65 km selatan
Atambua, kota Kabupaten Belu, di Timor bagian Nusatenggara Timur
(NTT). Hingga Kamis pukul 19.30, 148 orang dinyatakan tewas dan
ratusan lainnya hilang. Bencana banjir ini bersumber dari Sungai
Benanain, yang antara lain membelah kawasan Besikama, dataran rendah
yang subur. Benanain adalah sungai terbesar di Timor barat dengan
lebar alur antara 1.000 sampai 1.500 meter. Pada musim hujan, sungai
ini selalu menjadi sumber bencana banjir. Pasalnya, sungai itu
merupakan induk dari hampir semua sungai lain di kawasan hulu wilayah
Kabupaten Belu, Timor Tengah Utara (TTU), dan Timor Tengah Selatan
(TTS).

Berdasarkan keterangan dari Atambua, kota Kabupaten Belu (sekitar 300
km di timur Kota Kupang), Kamis siang banjir kali ini sangat ganas.
Khusus di sekitar kawasan Besikama, yang meliputi dua kecamatan,
Malaka Tengah (Malteng) dan Malaka Barat (Malbar), luapan banjir dari
Sungai Benanain mencapai 8-10 km dari tepi alur aslinya.

Pelaksana Tugas Harian Sekretaris Daerah Belu Drs Yoachim Lopez yang
dihubungi dari Kupang, Kamis siang, hanya bisa memastikan jumlah
korban meninggal tersebut yang semuanya berasal dari Kecamatan
Malteng. “Ini perkembangan terakhir hingga pukul 11.30,” jelas Lopez,
yang juga Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Belu.
Jumlah akan bertambah karena dilaporkan masih ratusan warga di daerah
bencana yang belum diketahui nasibnya.

“Sekarang ini sebuah tim bersama warga sekitar masih terus melakukan
pencarian. Mereka langsung dipimpin Bapak Bupati (Drs Marcel Bere)
yang sudah berada di lokasi bencana sejak Selasa malam,” jelasnya.

Belum surut

Dilaporkan, tim tidak bisa bekerja maksimal akibat belum surutnya
genangan air bercampur lumpur setinggi kurang lebih satu sampai dua
meter. Tim bersama warga bahkan selalu diliputi rasa cemas dan takut
akan munculnya banjir susulan karena hujan di kawasan hulu dan juga di
Besikama masih terus berlangsung.

Selain korban tewas dan ratusan warga hilang, Lopez belum bisa merinci
jumlah rumah dan bangunan umum yang hanyut, rusak berat, atau hancur.
Namun, luapan banjir yang datang menyusul hujan lebat selama sepekan
terakhir ini melanda hampir seluruh wilayah dua kecamatan, Malteng dan
Malbar.

Kecamatan Malteng kini berpenduduk sekitar 45.000 jiwa. Sementara
kecamatan tetangganya, Malbar, penduduknya lebih banyak, sekitar
62.000 jiwa. Dua kecamatan itu masuk kawasan Besikama. Dengan
demikian, kawasan Besikama yang merupakan sumber pangan Kabupaten
Belu, kini penduduknya sekitar 107.000 jiwa. Itu berarti, hampir
separo dari jumlah penduduk Belu yang kini tercatat 244.577 jiwa.

“Jumlah penduduk Malteng dan Malbar itu belum termasuk pengungsi.
Hingga kini pengungsi Timtim yang masih bertahan di kawasan Besikama
sekitar belasan ribu jiwa,” jelas Yoachim Lopez.

“Belum bisa dirinci berapa banyak rumah yang menjadi korban. Namun,
hampir seluruh wilayah dua kecamatan terkena bencana banjir, termasuk
500 hektare sawah yang ditanami di Malteng,” tambahnya.

Baru di Malteng

Diperoleh keterangan, upaya pemantauan serta pertolongan tim, hingga
Kamis siang, hanya bisa menjangkau wilayah Kecamatan Malteng. Itu pun
belum bisa maksimal karena genangan air bercampur lumpur belum surut.
Namun, informasi lain menyebutkan, khusus di Malteng, bencana paling
parah menimpa Desa Umakatahan, Bolan, Naimana, Fahiluka, Wederok, dan
Manumutin.

Sebaliknya, upaya pemantauan serta pertolongan ke wilayah bencana di
Malbar belum bisa dilakukan akibat terputusnya Jembatan Benanain.
Jembatan permanen tahun 1984 yang sekaligus merupakan pintu masuk
wilayah Malbar dari arah Atambua itu hanyut diterjang banjir, Selasa
malam.

“Kondisi ini sangat menyulitkan kami mengupayakan pertolongan serta
menyalurkan bantuan,” tutur Lopez. Menurut dia, bantuan yang telah
disalurkan dari Atambua bagi korban bencana di Malteng antara lain
berupa beras sembilan ton, obat-obatan bersama tenaga medis, dan mobil
tangki air minum. Sementara UNHCR (Komisi Tinggi PBB untuk Urusan
Pengungsi) juga telah menyalurkan tenda-tenda untuk tempat berlindung
sementara bagi para korban.

Selain itu, Pemerintah Daerah Belu juga sudah mengirim sejumlah alat
berat guna menggusur gundukan lumpur yang menutup badan jalan hingga
kota Kecamatan Malteng di Betun. Telah disusul pula sejumlah truk guna
mengevakuasi para korban ke kawasan yang aman di Desa Kamanasa.

Sementara dari Kupang diperoleh keterangan, Wakil Gubernur NTT Drs
Yohanes Pake Pani bersama timnya Kamis pagi sedianya berangkat menuju
lokasi bencana dengan helikopter. Namun, rencana itu batal akibat
cuaca yang terus mendung bercampur gerimis sejak pagi.

Tim ini tidak bisa berangkat melalui darat karena ruas jalan negara
dari Kupang ke Atambua sedang putus sejak dua hari lalu. Dua lokasi
longsoran yang memutuskan hubungan jalan darat ini semuanya terjadi di
wilayah Kabupaten TTS, masing-masing di Polem dan Niki-niki. (ans)

SKALA TORNADO

Dr. T. Theodore Fujita mengembangkan suatu metode untuk mengklasifikasikan tingkat kerusakan yang dihasilkan oleh tornado. Metode ini dikenal dengan nama Skala Fujita dengan deskripsi sebagai berikut

  • Skala F0

Kecepatan (Mph) : < 73 Tingkat kerusakan : Ringan, beberapa kerusakan pada cerobong asap; dahan pohon patah dan daun-daun tercabut; pohon-pohon berakar dangkal terdorong; papan- papan penunjuk rusak dan roboh.

  • Skala F1

Kecepatan (Mph) : 73 – 112 Tingkat kerusakan : Sedang, atap rumah berhamburan; rumah semi-permanen bergeser bahkan roboh; pohon besar tumbang; kaca yang tidak kuat pecah; seng dan asbes beterbangan.

  • Skala F2

Kecepatan (Mph) : 113 – 157 Tingkat kerusakan : Signifikan, atap rumah dari kayu dan tanah liat terbang; rumah semi-permanen roboh; mobil terbalik; pohon besar tercabut; misil ringan terpicu; mobil terangkat dari permukaan tanah.

  • Skala F3

Kecepatan (Mph) : 158 – 206 Tingkat kerusakan : Berat, atap beterbangan dan dinding rumah permanen rusak parah bahkan roboh; kereta api terbalik; sebagian besar pohon di hutan tercabut; mobil besar terlempar dari permukaan tanah.

  • Skala F4

Kecepatan (Mph) : 207 – 260 Tingkat kerusakan : Hebat, rumah permanen porak poranda; bangunan dengan pondasi semi-permanen tersapu; misil besar terpicu; mobil dan benda berat lainnya terlempar beterbangan; semua pohon beterbangan.

  • Skala F5

Kecepatan (Mph) : 261 – 318 Tingkat kerusakan : Sangat hebat, rumah dengan kerangka yang baik pondasinya tersapu; Misil berukuran besar beterbangan di udara hingga 100 meter.

http://macsman.files.wordpress.com/2008/10/350px-sanfranhouses06.jpg

1. Hampir semua orang yang hanya menunduk dan berlindung pada saat bangunan runtuh, meninggal karena tertimpa runtuhan. Orang-orang yang berlindung di bawah suatu benda akan remuk badannya.

2. Kucing, anjing dan bayi biasanya mengambil posisi meringkuk secara alami. Itu juga yang harus kita lakukan pada saat gempa. Ini adalah insting alami untuk menyelamatkan diri.

Kita dapat bertahan hidup dalam ruangan yang sempit. Ambil posisi di samping suatu benda, di samping sofa, di samping benda besar yang akan remuk sedikit, tapi menyisakan ruangan kosong di sebelahnya.

3. Bangunan dari kayu adalah tipe konstruksi yang paling aman selama gempa bumi. Kayu bersifat lentur dan bergerak seiring ayunan gempa. Jika bangunan kayu ternyata tetap runtuh, banyak ruangan kosong yang aman akan terbentuk.

Disamping itu, bangunan kayu memiliki sedikit konsentrasi dari bagian yang berat. Bangunan dari batu bata akan hancur berkeping-keping. Kepingan batu bata akan mengakibatkan luka badan tapi hanya sedikit yang meremukkan badan dibandingkan beton bertulang.

4. Jika kita berada di tempat tidur pada saat gempa terjadi, berguling lah ke samping tempat tidur. Ruangan kosong yang aman akan berada di samping tempat tidur. Hotel akan memiliki tingkat keselamatan yang tinggi dengan hanya menempelkan peringatan di belakang pintu agar tamu-tamu berbaring di lantai di sebelah tempat tidur jika terjadi gempa.

5. Jika terjadi gempa dan kita tidak dapat keluar melalui jendela atau pintu, maka berbaring lah meringkuk di sebelah sofa atau kursi besar.

6. Hampir semua orang yang berada di belakang pintu pada saat bangunan runtuh akan meninggal. Mengapa? Jika kita berdiri di belakang pintu dan pintu tersebut rubuh ke depan atau ke belakang kita akan tertimpa langit-langit di atasnya. Jika pintu tersebut rubuh ke samping, kita akan tertimpa dan terbelah dua olehnya. Dalam kedua kasus tersebut, kemungkinan untuk selamat sangat mustahil!

7. Jangan pernah lari melalui tangga. Tangga memiliki “momen frekuensi” yang berbeda (tangga akan berayun terpisah dari bangunan utama). Tangga dan bagian lain dari bangunan akan terus-menerus berbenturan satu sama lain sampai terjadi kerusakan struktur dari tangga tersebut. Orang-orang yang lari ke tangga sebelum tangga itu rubuh akan terpotong-potong olehnya.

Bahkan, jika bangunan tidak runtuh, jauhilah tangga. Tangga akan menjadi bagian bangunan yang paling mungkin untuk rusak. Bahkan jika gempa tidak meruntuhkan tangga, tangga tersebut akan runtuh juga pada saat orang-orang berlarian menyelamatkan diri. Tangga tetap harus diperiksa walaupun bagian lain dari bangunan tidak rusak.

8. Berdirilah di dekat dinding paling luar dari bangunan atau di sebelah luarnya jika memungkinkan. Akan lebih aman untuk berada di sebelah luar bangunan daripada di dalamnya. Semakin jauh kita dari bagian luar bangunan, maka akan semakin besar kemungkinan jalur menyelamatkan diri tertutup.

9. Orang-orang yang berada di dalam kendaraan akan tertimpa jika jalanan di atasnya runtuh dan meremukkan kendaraan; ini yang ternyata terjadi pada lantai-lantai jalan tol Nimitz. Korban dari gempa bumi San Fransisco semuanya bertahan di dalam kendaraan mereka dan meninggal.

Mereka mungkin dapat selamat seandainya keluar dari kendaraan dan berbaring di sebelah kendaraan mereka. Semua kendaraan yang hancur, memiliki ruangan kosong yang aman setinggi 1 meter di sampingnya, kecuali kendaraan yang tertimpa langsung oleh kolom jalan tol.

10. Saya menemukan, pada saat merangkak di bawah kantor perusahaan koran dan kantor lain yang menyimpan banyak kertas bahwa kertas tidak memadat. Ruangan kosong yang besar ditemukan di sekitar tumpukan kertas-kertas.

Gempa bumi adalah getaran yang terjadi di permukaan bumi yang dikarenakan oleh Adanya pergerakan kerak atau lempeng bumi. alat pengukur atau pencatat gempa bumi disebut dengan seismometer atau dikenal juga dengan nama seismograph. Besarnya suatu gempa bumi dinyatakan dalam Skala Richter.
Gempa bumi kebanyakan terjadi karena adanya pelepasan energi karena adanya lempengan atau kerak bumi yang bergerak, disamping itu juga bisa disebabkan karena adanya pergerakan magma dalam gunung berapi, adanya penumpukan sejumlah massa air yang besar di balik dam dan juga bisa disebabkan dari peledakan bahan peledak.
Berikut adalah 10 Gempa Bumi Paling Mematikan Di Dunia:
1. Gempa Bumi Shaanxi
Gempa bumi paling mematikan dalam sejarah yang terjadi pada 14
Februari 1556 di Shaanxi, Cina diperkirakan menewaskan tidak kurang
dari 830.000 orang. Gempa bumi ini tercatat sebesar 8.0 skala richter.
2. Gempa Bumi Tangshan
Gempa bumi ini terjadi pada 28 Juli 1976 di Tangshan Hebei,
china. Gempa bumi ini diperkirakan menewaskan sekitar 255.000 orang.
Gempa ini berlangsung pada pagi hari dan diperkirakan berlangsung dalam
waktu 10 detik dengan skala 8.o Richter.
3. Gempa Bumi Haiyuan
Gempa bumi yang terjadi pada 16 Desember 1920 di kota Haiyuan,
Ningxia, China ini mengakibatkan setidaknya 240.000 jiwa melayang.
Besarnya gempa Haiyun sekitar 7.8-8.5 skala richter.
4. Gempa Bumi Aleppo
Gempa bumi yang berpusat di kota Aleppo, Syria pada 11 Oktober
1138 ini menewaskan setidaknya 230.000 orang. Besarnya gempa yang
terukur sebesar 8.5 skala richter.

5. Gempa Bumi Samudera India
Gempa bumi ini terjadi pada 26 Desember 2004 di Samudra Hindia,
lepas pantai barat Aceh. Gempa ini berkekuatan 9.3 skala Richter, yang
merupakan gempa bumi terbesar di asia tenggara dalam kurun waktu 40
tahun belakangan ini. Gempa bumi ini juga menyebabkan terjadinya
gelombang tsunami dan menewaskan kurang lebih 230.000 jiwa.

6. Gempa Bumi Damghan
Gempa bumi ini berpusat di negara Iran pada tahun 856 dan menewaskan setidaknya 200.000 jiwa.
7. Gempa Bumi Ardabil
Gempa bumi yang mengakibatkan korban jiwa sebesar 150.000 jiwa ini berpusat di Iran pada tahun 893.
8. Gempa Bumi Hokkaidō
Gempa bumi Hokkaidō terjadi di Jepang pada tahun 1730 dan menewaskan sekurangnya 137.000 jiwa melayang.
9. Gempa Bumi Ashgabat
Gempa bumi ini menewaskan sekitar 110.000 korban jiwa di
Ashgabat, Turkmenistan pada 5 Oktober 1948. Gempa bumi tercatat sebesar
7.3 skala richter.
10. Gempa Bumi Kanto
Gempa bumi Kanto berpusat di dataran Kanto di Pulau Honshu Jepang
pada tanggal 1 September 1923 dan menewaskan sekitar 105.000 orang.
Gempa bumi ini diperkirakan sebesar 7.9-8.4 skala richter.

*Gempa bumi merupakan peristiwa pelepasan energi yang menyebabkan dislokasi (pergeseran) pada bagian dalam bumi secara tiba-tiba.
*Penyebab Terjadinya Gempa Bumi
Proses tektonik akibat pergerakan kulit/lempeng bumi
Aktivitas sesar di permukaan bumi
Pergerakan geomorfologi secara lokal, contohnya terjadi runtuhan tanah
-Aktivitas gunung api
-Ledakan nuklir
Mekanisme perusakan terjadi karena energi getaran gempa dirambatkan ke seluruh bagian bumi. Di permukaan bumi, getaran tersebut dapat menyebabkan kerusakan dan runtuhnya bangunan sehingga dapat menimbulkan korban jiwa. Getaran gempa juga dapat memicu terjadinya tanah longsor, runtuhan batuan, dan kerusakan tanah lainnya yang merusak permukiman penduduk. Gempa bumi juga menyebabkan bencana ikutan berupa kebakaran, kecelakaan industri dan transportasi serta banjir akibat runtuhnya bendungan maupun tanggul penahan lainnya.
*Gejala dan Peringatan Dini Kejadian
-Mendadak/secara tiba-tiba Belum ada metode pendugaan secara akurat
-Tips Penanganan Jika Terjadi Gempa Bumi

*Jika gempa bumi menguncang secara tiba-tiba, berikut ini 10 petunjuk yang dapat dijadikan pegangan di manapun anda berada.
a. Di dalam rumah
Getaran akan terasa beberapa saat. Selama jangka waktu itu, anda harus mengupayakan keselamatan diri anda dan keluarga anda. Masuklah ke bawah meja untuk melindungi tubuh anda dari jatuhan benda-benda. Jika anda tidak memiliki meja, lindungi kepala anda dengan bantal.
Jika anda sedang menyalakan kompor, maka matikan segera untuk mencegah terjadinya kebakaran.
b. Di sekolah
Berlindunglah di bawah kolong meja, lindungi kepala dengan tas atau buku, jangan panik, jika gempa mereda keluarlah berurutan mulai dari jarak yang terjauh ke pintu, carilah tempat lapang, jangan berdiri dekat gedung, tiang dan pohon.
c. Di luar rumah
Lindungi kepala anda dan hindari benda-benda berbahaya. Di daerah perkantoran atau kawasan industri, bahaya bisa muncul dari jatuhnya kaca-kaca dan papan-papan reklame. Lindungi kepala anda dengan menggunakan tangan, tas atau apapun yang anda bawa.
d. Di gedung, mall, bioskop, dan lantai dasar mall
Jangan menyebabkan kepanikan atau korban dari kepanikan. Ikuti semua petunjuk dari petugas atau satpam.
e. Di dalam lift
Jangan menggunakan lift saat terjadi gempa bumi atau kebakaran. Jika anda merasakan getaran gempa bumi saat berada di dalam lift, maka tekanlah semua tombol. Ketika lift berhenti, keluarlah, lihat keamanannya dan mengungsilah. Jika anda terjebak dalam lift, hubungi manajer gedung dengan menggunakan interphone jika tersedia.
f. Di kereta api
Berpeganganlah dengan erat pada tiang sehingga anda tidak akan terjatuh seandainya kereta dihentikan secara mendadak. Bersikap tenanglah mengikuti penjelasan dari petugas kereta. Salah mengerti terhadap informasi petugas kereta atau stasiun akan mengakibatkan kepanikan.
g. Di dalam mobil
Saat terjadi gempa bumi besar, anda akan merasa seakan-akan roda mobil anda gundul. Anda akan kehilangan kontrol terhadap mobil dan susah mengendalikannya. Jauhi persimpangan, pinggirkan mobil anda di kiri jalan dan berhentilah. Ikuti instruksi dari radio mobil. Jika harus mengungsi maka keluarlah dari mobil, biarkan mobil tak terkunci.
h. Di gunung/pantai
Ada kemungkinan longsor terjadi dari atas gunung. Menjauhlah langsung ke tempat aman. Di pesisir pantai, bahayanya datang dari tsunami. Jika anda merasakan getaran dan tanda- tanda tsunami tampak, cepatlah mengungsi ke dataran yang tinggi.
Beri pertolongan
Sudah dapat diramalkan bahwa banyak orang akan cedera saat terjadi gempa bumi besar. Karena petugas kesehatan dari rumah-rumah sakit akan mengalami kesulitan datang ke tempat kejadian, maka bersiaplah memberikan pertolongan pertama kepada orang-orang yang berada di sekitar anda.
i. Dengarkan informasi
Saat gempa bumi besar terjadi, masyarakat terpukul kejiwaannya. Untuk mencegah kepanikan, penting sekali setiap orang bersikap tenang dan bertindaklah sesuai dengan informasi yang benar. Anda dapat memperoleh informasi yag benar dari pihak yang berwenang atau polisi. Jangan bertindak karena informasi orang yang tidak jelas.
j. Strategi Mitigasi dan Upaya Pengurangan Bencana Gempa Bumi
Harus dibangun dengan konstruksi tahan getaran/gempa khususnya di daerah rawan gempa. Perkuatan bangunan dengan mengikuti standar kualitas bangunan. Pembangunan fasilitas umum dengan standar kualitas yang tinggi. Perkuatan bangunan-bangunan vital yang telah ada. Rencanakan penempatan pemukiman untuk mengurangi tingkat kepadatan hunian di daerah rawan gempa bumi. Zonasi daerah rawan gempa bumi dan pengaturan penggunaan lahan. Pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya gempa bumi dan cara-cara penyelamatan diri jika terjadi gempa bumi. Ikut serta dalam pelatihan program upaya penyelamatan, kewaspadaan masyarakat terhadap gempa bumi, pelatihan pemadam kebakaran dan pertolongan pertama. Persiapan alat pemadam kebakaran, peralatan penggalian, dan peralatan perlindungan masyarakat lainnya. Rencana kontinjensi/kedaruratan untuk melatih anggota keluarga dalam menghadapi gempa bumi. Pembentukan kelompok aksi penyelamatan bencana dengan pelatihan pemadaman kebakaran dan pertolongan pertama. Persiapan alat pemadam kebakaran, peralatan penggalian, dan peralatan perlindungan masyarakat lainnya. Rencana kontinjensi/kedaruratan untuk melatih anggota keluarga dalam menghadapi gempa bumi.